Kerja sama UPI dengan Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia diwakili oleh Mr. Sasaki Hiroki (Atase Tenaga Kerja Keduataan Jepang) yang diselenggarakan di Ruang Rapat Partere, Kampus UPI, Selasa (7/6/2022). Kegiatan diawali oleh sambutan Rektor UPI Prof. Dr. M. Solehudin, M.Pd., M.A., beliau menyampaikan hubungan kerjasama Indonesia dengan Jepang cukup baik, oleh karena itu pada kesempatan kali ini diharapkan menghasilkan kerjasama yang baik bagi UPI dan Pemerintah Jepang, kegiatan dilanjutkan oleh pengantar kerjasama yang disampaikan oleh Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si. selaku Kepala Kantor Staf Ahli UPI, Prof. Budimansyah menyampaikan beberapa pokok yang akan menjadi pembahasan pada diskusi kali ini, yakni mengenai Program Pelatihan dan Pendidikan Vokasi untuk menyiapkan tenaga kerja di Indonesia maupun tenaga kerja yang bekerja di Jepang, di UPI sendiri yakni melalui Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang yang salah satu tujuannya ialah mempersiapkan tenaga kerja di Jepang. Dalam desain UPI, Pelatihan Vokasi akan dilakukan oleh PT UPI Edun, bekerja sama dengan UPI. 

Salah satu substansi pelatihan yang Prof. Budimansyah sampaikan ialah penguasaan bahasa jepang. Oleh karena itu, potensi kami untuk para pelatih atau instruktur dapat diambil dari tenaga pendidik kita, yakni Prodi Pendidikan Bahasa Jepang. Latar belakang pemikiran UPI untuk mengembangkan Pendidikan dan Pelatihan Vokasi UPI: IKU 1 bahwa lulusan harus mendapatkan pekerjaan yang layak. Oleh karena itu, dalam konteks ini akan diberikan Pelatihan Vokasi, memberikan keahlian lebih selain mengajar. Selanjutnya, dalam IKU 2 bahwa harus mendapat pengalaman belajar di luar kampus, dalam kerangka IKU 1 dan 2 disamping ketersediaan peluang di Jepang, mahasiswa kami akan di latih agar dapat magang dan bekerja di Jepang.


Selanjutnya, Prof. Ace Suryadi, M.Sc., Ph.D. menyampaikan bahwa Indonesia dengan Jepang akan bekerja sama untuk pelatihan ini. Program yang sangat penting untuk mempersiapkan pendirian Fakultas Vokasi ialah program pelatihan secara sistematis dalam lima bidang pelatihan. Prof. Ace menyampaikan “Kita tau bahwa Bandung, Kab. Subang, Kab. Kuningan mempunyai tingkat pengangguran termasuk tinggi terutama lulusan SMA dan SMK. Program ini bekerja sama dengan pemerintah kabupaten masing-masing untuk mengelola program pelatihan ini”. Program pelatihan ini memiliki 2 orientasi, pertama menyiapkan tenaga kerja di dalam negeri, kedua tenaga kerja yang siap untuk bekerja di Jepang. Program ini kemungkinan ada 3 tingkatan, yang pertama D0 yakni program pelatihan untuk bekerja di jepang. Kedua, D2 yakni program pendidikan satu tahun, D3 dalam 8 keahlian yakni, Keperawatan (care giver), Hospilatility (hotel & restaurant), Pengolahan (manufacture), Bangunan (construction), Teknologi informasi dan komunukasi (ICT), Pengolahan makanan (food factory), Pemeliharaan & perawatan (cleaning management), Aviation (Ground Handling).

Pada kesempatan kali ini Prof Ace menyampaikan bahwa program dibagi menjadi 2, yakni Program Keahlian, dan Program Bahasa Jepang. Program keahlian yang dimaksud kita ingin bekerjasama melalui pengembangan kurikulum dengan kurikulum yang terintegrasi pada industri di Jepang atau di Indonesia itu sendiri. Setelah program berjalan sertifikasi bahasa Jepang dan sertifikasi kompetensi keahlian dapat dikeluarkan juga oleh Jepang. Oleh karena itu, kerjasama yang ditawarkan oleh UPI kepada Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia ialah, 1) Mahasiswa aktif UPI supaya dapat bekerja di Industri Jepang selama 1 tahun, 2) Proses pendidikan Bahasa Jepang, 3) Sertifikasi skill dan penempatan lulusan bekerja di Jepang, 4) Mendidik tenaga pendidik UPI di Jepang.

Menanggapi pernyataan tersebut, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang jenjang 1 menyatakan bahwa banyak lulusan kami yang memiliki kompetensi diatas rata-rata bekerja di industri Jepang, seluruh Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang terdapat konsorsium bahwa yang mendapatkan beasiswa dan bekerja di Industri Jepang harus memiliki keahlian bahasa Jepang N3. Sementara itu di kami programnya intens yakni setiap tahun selalu ada yang magang di Jepang. Sementara itu, ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang jenjang S2 menyampaikan mahasiswa Jepang juga pernah menjadi mahasiswa di UPI, dan program studi kami pun memiliki Beasiswa dari Jepang yakni Tokyo Foundation, beliau menyampaikan syarat untuk mendapatkan beasiswa yakni harus memiliki keterampilan bahasa Jepang N2, program studi kami sedang merintis Double Degree dan merintis S3, dan syarat Double Degree sama yakni N2 juga jadi secara kerjasama mereka memudahkan kita dalam bekerjasama, ditambah lagi program Double Degree mereka mengizinkan menyusun tugas akhir dalam satu bahasa saja, ungkapnya.

Mr. Sasaki Hiroki menanggapi pernyataan yang telah disampaikan beliau mengucapkan terima kasih atas undangan dan berbagai informasinya, beliau menggaris bawahi bahwa dialog kali ini fokus mengenai ketenaga kerjaan bagaimana lulusan yang sulit mencari kerja dan ingin bekerja sama dengan pemerintah Jepang, Sasaki mengungkapkan “saya akan mencarikan informasi kira-kira apa yang perlu disiapkan”. Kemudian, perihal program studi atau apapun jurusannya, semua bisa bekerjasama dengan Jepang. Menanggapi perihal pelatihan, Mr. Sasaki Hiroki menyatakan pula bahwa, “program pengiriman tenaga pendidik ke Jepang juga akan saya bicarakan langsung kepada kedutaan”, namun terdapat keterbatasan-keterbatasan diataranya pemerintah Jepang setiap tahun harus mengurangi anggaran beasiswa. Mr. Sasaki Hiroki menegaskan sekali lagi “Jadi bagaimana pun keterbatasannya, program ini akan saya usahakan dan di perhatikan bagi keduataan.”

Mendengar respon Mr. Sasaki Hiroki sangat positif ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang jenjang S1 menyampaikan bahwa para mahasiswa pada saat ini dimudahkan juga dengan adanya program MBKM dari Kemendikbud RI, karena sebelum ada program MBKM mahasiswa selain bekerja, magang, mereka kesulitan menyelesaikan akademik karena pada proses perkuliahan nilai mereka tidak bisa di konversikan, namun setelah program MBKM diberlakukan, mahasiswa menjadi lebih mudah, mereka magang dan bekerja di Jepang bisa di konversikan menjadi nilai perkuliahan. Prof ace pun menanggapi “kalau bisa bukan hanya dari program bahasa jepang, tapi memberikan kesempatan kepada prodi lain, tapi melalui proses pelatihan bahasa jepang. Saya kira kita mungkin program ini relatif masal.” Oleh karena itu, pelatihannya masal, kita bisa memperdayakan dosen-dosen sebagai instruktur. Program mahasiswa bisa bekerja di Jepang sangat memungkinkan, program pelatihan bahasa Jepang yang dilatih oleh tenaga pendidik kita pun sangat potensial, selain itu potensi lulusan untuk bekerja di Jepang pun memiliki peluang yang cukup baik. (adminksa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *